Sabtu, 13 Agustus 2016

Apa yang Terkandung dalam Sepotong Berita mengenai 'Perampasan Sepeda Motor Menunggak Kredit di Jalan oleh Debt Collector adalah Ilegal'?

Kali pertama, sepeda motor yang diadakan sendiri oleh warga melalui skema kredit, menandai buruknya layanan transportasi kota. Tugas negara menyediakan layanan transportasi tidak tertunaikan, warga negara menjadi yatim-piatu di bidang transportasi perkotaan. Singkatnya, tanggungjawab negara diambil alih oleh warga sendiri, mereka melunasinya dengan memprioritaskannya dalam kolom pengeluaran bulanan, sebelum poin-poin mengenai kebutuhan pokok. Ide yang lebih mengejutkan adalah, mereka pun menyediakan bagian dalam rumahnya untuk keperluan tempat parkir alat transportasi itu, menjaganya dari kemungkinan pencurian, dan mengeluarkan biaya pemeliharaan bulanan.


Burukya layanan transportasi kota membuka peluang bagi sektor bukan negara untuk mengambil peluang meraih keuntungan. Perkembangan bisnis penjualan maupun jasa finance yang memfasilitasi kredit sepeda motor bagi konsumen yang ingin memiliki kendaraan roda-dua di Lombok terbilang sangat pesat. Mereka berupa agen besar yang berkantor pusat di Mataram ataupun yang hanya merupakan kantor-kantor cabang dari perusahaan besar yang beroperasi lintas-pulau. Bagi kota Mataram sendiri, ini adalah sektor baru yang membuka lapangan pekerjaan baru yang sangat diminati: menjadi sales, surveyor, maupun debt-collector. Hal ini menandai kelahiran idiom  "karyawan yang bekerja pada perusahaan" untuk membedakannya dengan idiom lain seperti pekerja sektor informal, para "penjaga toko".  Kedua idiom yang disebut dimuka, mungkin harus dibedakan dengan idiom yang berikut ini:  "karyawan mall", "karyawan T*ara", "karyawan hotel". Pembedaan itu penting, karena berkaitan dengan idiom "perusahaan", yang akan berhubungan juga dengan soal "kesadaran".

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar